banner 728x250

Kelangkaan BBM Merata di Luwu, Pengawas SPBU Padang Sappa: Kami Salurkan Sesuai Barcode

Foto Ilustrasi antrian BBM

LUWU — Kelangkaan dan antrian panjang BBM subsidi di Kabupaten Luwu masih terus terjadi. Kondisi ini tidak hanya menimpa satu SPBU, tetapi hampir merata dari wilayah Karang-karangan hingga Larompong.

Pengamatan di lapangan menunjukkan setiap SPBU dipadati kendaraan yang mengantre. Kondisi serupa juga dikeluhkan terjadi di sejumlah daerah lain di Sulawesi Selatan, termasuk Makassar.

Beberapa warga bahkan mengaku tidak bisa menggunakan kendaraan ke kantor karena solar dan pertalite sulit didapat.

“Ini bukan masalah di satu titik saja. Dari Karang-karangan sampai Larompong, semua SPBU antre panjang. Di Makassar juga sama, BBM langka,” ujar salah seorang warga.

Menanggapi sorotan terhadap SPBU Padang Sappa, pengawas SPBU setempat, Irma, menegaskan penyaluran BBM di tempatnya sudah mengikuti aturan. Pengisian dilakukan sesuai barcode yang diterbitkan instansi terkait seperti Dinas Pertanian dan Perikanan.

“Tidak ada pengisian menggunakan jerigen dalam jumlah besar. Yang kami layani adalah yang punya dokumen dan barcode resmi. Bahkan tetangga SPBU yang ketahuan menjual eceran di depan, kami hanya layani maksimal 5 liter,” kata Irma saat dikonfirmasi.

Ia juga meluruskan bahwa BBM eceran yang dijual warga sekitar tidak semuanya berasal dari SPBU Padang Sappa. Menurutnya, pasokan eceran itu juga didapat dari Palopo, Lare-Lare, dan Lanipa.

Hal senada disampaikan salah seorang warga yang rumahnya tepat di depan SPBU Padang Sappa. Ia yang enggan disebut namanya menyebut, SPBU tersebut tidak melayani pembelian dalam jumlah besar untuk dijual kembali.

Dalam beberapa pemberitaan, SPBU Padang Sappa kerap menjadi sorotan. Irma membantah adanya penyelewengan di SPBU tersebut. Ia menduga, fokus pemberitaan hanya tertuju ke satu SPBU karena pemilik menolak permintaan sejumlah oknum.

“Owner tidak setuju karena semua pengisian sudah sesuai barcode masing-masing. Tidak ada pengisian jerigen berlebihan seperti yang diberitakan,” ujarnya.

Ia juga menyebut ada informasi beredar terkait permintaan sejumlah oknum wartawan kepada pengelola SPBU Padang Sappa dengan nilai nominal tertentu. Namun hal itu belum dapat dikonfirmasi kebenarannya.

Sejumlah pihak menilai praktik pallansir atau pengecer BBM subsidi memang sulit diberantas selama kelangkaan masih terjadi. Para pelaku berpindah dari satu SPBU ke SPBU lain untuk mendapatkan BBM, lalu menjualnya kembali dengan harga lebih tinggi.

Pemerintah Kabupaten Luwu sebelumnya telah membentuk satgas pengawasan dan meminta SPBU serta Pertamina menjaga stok. Namun hingga kini antrian panjang belum sepenuhnya terurai.

Warga berharap pengawasan tidak hanya menyasar satu SPBU, tetapi menyeluruh di seluruh wilayah Luwu dan Sulsel, agar distribusi BBM subsidi benar-benar tepat sasaran.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *