Oleh: Rosmiati Mattayang
Tokoh Perempuan Luwu
Banjir tidak selalu datang karena hujan yang terlalu deras. Dalam banyak kasus, banjir justru lahir dari kelalaian yang dibiarkan menumpuk bertahun-tahun.
Saluran air tersumbat, drainase dipenuhi sedimentasi, got dipenuhi sampah, hingga rumput liar yang menutup aliran menjadi persoalan klasik yang seolah dianggap biasa. Padahal, persoalan kecil yang terus diabaikan bisa berubah menjadi bencana besar bagi masyarakat.
Kondisi yang kini dikeluhkan warga di Belopa menjadi alarm keras bagi Pemerintah Kabupaten Luwu. Kritik masyarakat terkait buruknya drainase perkotaan tidak muncul tanpa alasan.
Warga melihat langsung bagaimana got dan selokan di sejumlah titik dibiarkan kotor dan tidak terawat. Ketika hujan turun, air meluap ke jalan hingga permukiman. Situasi ini tentu menimbulkan pertanyaan besar, apakah penanganan banjir benar-benar menjadi prioritas pemerintah daerah?
Masyarakat sebenarnya tidak menuntut sesuatu yang muluk. Mereka hanya ingin melihat adanya gerakan nyata di lapangan.
Membersihkan drainase, mengangkut sedimentasi tanah, memangkas rumput liar, dan memastikan aliran air kembali normal adalah pekerjaan dasar yang seharusnya rutin dilakukan pemerintah.
Apalagi Kabupaten Luwu dinilai memiliki sumber daya, alat berat, dan perangkat dinas yang cukup untuk menjalankan program tersebut secara bertahap.
Kritik warga yang menyamakan drainase tersumbat dengan aliran darah manusia sejatinya sangat relevan. Ketika aliran darah tersumbat, tubuh menjadi sakit. Demikian pula sebuah kota. Jika saluran airnya mati, maka kota itu perlahan akan lumpuh setiap kali hujan datang.
Genangan air bukan hanya merusak infrastruktur, tetapi juga mengganggu aktivitas ekonomi, kesehatan masyarakat, dan kenyamanan lingkungan.
Di sisi lain, usulan pembentukan satgas khusus penanganan drainase patut dipertimbangkan. Pemerintah daerah bisa menjadikannya sebagai program padat karya yang melibatkan masyarakat lokal.
Selain menciptakan lingkungan bersih, langkah itu juga membuka lapangan pekerjaan dan membangun rasa memiliki terhadap kebersihan kota.
Publik tentu berharap pemerintah tidak alergi terhadap kritik. Masukan dari masyarakat seharusnya menjadi bahan evaluasi, bukan dianggap serangan politik atau sekadar keluhan emosional.
Justru pemimpin yang kuat adalah mereka yang mau mendengar suara rakyat dan cepat bertindak sebelum masalah membesar.
Hari ini masyarakat Luwu menunggu bukti, bukan janji. Yang ingin dilihat warga bukan lagi foto rapat, seremoni, atau unggahan kegiatan formal di media sosial.
Warga ingin melihat alat berat bekerja, petugas turun membersihkan drainase, dan perubahan nyata di lapangan.
Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan pemerintah bukan terletak pada banyaknya wacana, melainkan pada seberapa besar dampak yang benar-benar dirasakan masyarakat.















