banner 728x250

Rosmiati Mattayang Sebut DOB Luwu Raya Harga Mati demi Masa Depan Generasi Luwu

LUWU – Tokoh perempuan Luwu yang dikenal dengan sebutan “Srikandi Luwu” sekaligus “Opu Daeng Risaju kedua”, Rosmiati Mattayang, angkat bicara terkait pengangkatan mantan Bupati Luwu dua periode bersama tokoh politik Arsyad sebagai tenaga ahli di lingkup Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan.

Rosmiati yang sebelumnya turut turun ke jalan menyuarakan perjuangan Daerah Otonomi Baru (DOB) Luwu Raya menilai, pengangkatan sejumlah tokoh asal Luwu tersebut berpotensi memberi pengaruh besar terhadap arah perjuangan pemekaran wilayah yang selama ini terus digaungkan masyarakat Tana Luwu.

Menurut perempuan yang akrab disapa Ibu Ros itu, langkah pemerintah provinsi tersebut memunculkan berbagai pandangan di tengah masyarakat. Ia menyebut, sebagian kalangan menilai pengangkatan tokoh-tokoh berpengaruh dari Luwu bisa saja menjadi strategi politik untuk meredam perjuangan DOB Luwu Raya.

“Karena kita tahu, selama ini gubernur terkesan tidak mendukung DOB Luwu Raya. Maka ketika tokoh-tokoh Luwu yang dianggap punya pengaruh besar diangkat menjadi tenaga ahli, tentu muncul asumsi bahwa ini bisa melemahkan perjuangan kita,” ujar Rosmiati, Minggu (17/5/2026).

Meski demikian, Rosmiati berharap kehadiran para tokoh tersebut justru menjadi kekuatan baru dalam memperjuangkan aspirasi masyarakat Luwu di tingkat provinsi. Ia optimistis, figur-figur yang kini berada di lingkar pemerintahan dapat menjadi jembatan untuk memperkuat suara rakyat Tana Luwu.

“Tapi harapan kita semoga tidak demikian. Justru kehadiran para tokoh ini sebagai tenaga ahli bisa semakin menguatkan perjuangan DOB Luwu Raya di tingkat provinsi,” katanya.

Dalam pernyataannya, Rosmiati juga menyampaikan ucapan selamat kepada tokoh-tokoh Luwu yang mendapat amanah tersebut. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat dan para pemimpin asal Luwu untuk tetap bersatu memperjuangkan cita-cita pembentukan DOB Luwu Raya.

“Selamat kepada Opu Wara dan Kakanda Arsyad. Mari bersama-sama mewujudkan cita-cita masyarakat Tana Luwu. Siapa lagi kalau bukan kita, kapan lagi kalau bukan sekarang,” tegasnya.

Rosmiati menilai, perjuangan DOB bukan sekadar agenda politik, melainkan menyangkut masa depan generasi masyarakat Luwu. Ia menyoroti potensi sumber daya alam yang dinilai belum sepenuhnya dinikmati masyarakat setempat.

“Ingat anak cucu kita ke depan mau dibawa ke mana. Haruskah mereka kelaparan di rumahnya sendiri. Hari ini kita melihat kekayaan daerah kita dibawa keluar, sementara yang kita nikmati hanya sebagian kecil saja. Masih banyak rakyat miskin, padahal seharusnya masyarakat Luwu bisa hidup sejahtera di tanahnya sendiri,” tuturnya.

Pernyataan Rosmiati tersebut kembali menegaskan bahwa isu DOB Luwu Raya masih menjadi perhatian besar masyarakat di wilayah Tana Luwu dan terus memunculkan dinamika politik di Sulawesi Selatan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *